fbpx
Apa yang Sedang Dunia BicarakanDalam NegeriGaya HidupTravel

Wow, Tangkah & Kalibiru Merupakan Wisata Berbasis Komunitas

Pariwisata tidak hanya mengedepankan pengalaman, kebersihan, kesehatan, juga keberlanjutan ekosistem alam tempat wisata. Bagi dunia wisata alam, hal ini merupakan tugas para pelaku usaha, mulai dari tur operator, pekerja, hingga masyarakat sekitarnya, sehingga tempat wisata alam dapat lestari. Dalam diskusi online yang diadakan Koperasi Sentra Wisata Alam Nusantara (Kopi Setara), Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno mengatakan, perlu adanya kerjasama untuk tetap menjaga pariwisata yang berkelanjutan dengan berasaskan pada komunitas atau community based ecotourism. Ia mencontohkan para pelaku usaha wisata alam dapat belajar dari apa yang telah dilakukan tempat wisata di Tangkahan dan Kalibiru.

Wiratno menuturkan bahwa Tangkah merupakan salah satu contoh community based ecotourism. Dulu, kawasan tersebut dipenuhi oleh penebang liar. Namun kini berbeda. Mereka, lanjut Wiratno, sadar untuk “menjual” hutan tanpa menebang. Wiratno bahwa mengatakan, wisatawan diperbolehkan ikut berpatroli menjaga alam bersama gajah di sana. Namun yang terpenting adalah bagaimana gajah Tangkahan dapat tetap sehat, masyarakat bermanfaat, dan hutannya aman. Tangkahan juga mampu mengumpulkan pendapatan dari pariwisata sebesar Rp 7 miliar hingga Rp 10 miliar per tahunnya.

BACA JUGA  Tidak Hanya di Indonesia, Ternyata Kebanyakan Negara di Asia Tenggara Suka Streaming Film di Website Ilegal
Sumber: Tribun Travel

Wiratno juga mencontohkan satu tempat wisata lainnya yang menerapkan ekowisata yaitu Kalibiru yakni Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Contoh lainnya adalah Desa Jatimulyo, masih di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Wiratno menjelaskan, penduduk setempat memiliki kesadaran akan keberlanjutan alam meski ramai dikunjungi wisatawan.

Berkaca dari Tangkahan, Kalibiru hingga Sorong, Wiratno berharap potensi wisata alam lain di Indonesia juga bisa dinikmati oleh komunitas, bukan kelompok tertentu. Oleh karena itu, Wiratno menyambut baik dukungan dari Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk turut mendorong ecotourism berbasis komunitas. Isi kontennya nanti dari Kemenpar, dan kita dari proses perizinannya. Saya kira Kementerian Desa juga bisa terlibat,” jelasnya. Hal ini agar bisa menerapkan konsep ecotourism yang merata.

Sementara itu, Kemenparekraf, melalui Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Frans Teguh mengaku sependapat dengan Wiratno.  Menurutnya, ekowisata berbasis komunitas sangat penting bagi dunia pariwisata karena termasuk dalam daya pikat wisatawan.

BACA JUGA  Tips Jaga Daya Tahan Tubuh Tetap Prima Saat New Normal

Nah, kita sebagai warga kita patut mendukung adanya wisata alam berbasis komunitas ini dengan mempromosikan serta juga menjaga keindahan alamnya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close