fbpx
Apa yang Sedang Dunia BicarakanDalam NegeriLuar NegeriUnik & Lucu

Tie Dye di Prediksi Jadi Trend Booming Saat Pandemi

Selama pandemi Tie-dye diprediksi akan menjadi tren mode ke depan pada tahun 2020 ini. Pasalnya, motif busana penuh warna itu sedang banyak dicari banyak orang.
Jika dilihat pada platform pencarian media sosial-kreatif Pinterest. Pencarian kata kunci ‘tie-dye‘ meningkat hingga 462 persen dalam beberapa pekan terakhir. Kelihatanya, banyak orang berusaha menangkal rasa bosan mereka dengan berkreativitas bersama tie-dye.

Tie-dye adalah tren gaya yang dapat di adaptasi sebagai kegiatan DIY (do-it-yourself) di rumah,” ujar perwakilan Pinterest yakni Larkin Brown, mengutip Tak hanya itu, kata kunci how to crumple tie-dye atau cara untuk mengerutkan kain saat membuat tie-dye juga meningkat hingga 276 % di Pinterest selama beberapa pekan terakhir.

Sumber: Tokopedia

Dengan adanya lonjakan pencarian tie-dye yang meningkat ini dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Bagaimana tidak, proses membuat tie-dye sendiri relatif sederhana. Anda hanya membutuhkan kain, karet atau pengikat, dan berbagai jenis pewarna kain.

Dalam langkah proses pembuatannya, hanya dibutuhkan beberapa langkah dan pencucian dengan hasil sempurna. Dengan tie-dye, Anda juga bisa memodifikasi pakaian lama yang teronggok di lemari agar terlihat lebih menarik.

BACA JUGA  Terlalu Asik Berlayar, Pasangan Ini Tak Tahu Wabah Covid-19

Menurut Brown, aktivitas yang memicu kegembiraan dan kreativitas seperti tie-dye terasa sangat penting selama masa pandemi. Kreativitas dapat mendorong perasaan senang pada seseorang.

Bukan Barang Baru

Tie-dye sendiri bukan barang baru di dunia fesion. Hal tersebut juga sempat menjadi metode yang diaplikasikan untuk pembuatan dekorasi berbasis tekstil di seluruh dunia selama lebih dari 600 tahun.Pada dasarnya merupakan teknik pewarnaan kain dengan metode pencelupan. Pada tie-dye, kain diwarnai dengan mengikat beberapa bagian kain sebelum dilakukan pencelupan hingga memberikan efek-efek warna tertentu.

Di Indonesia sendiri, tie-dye juga dikenal dengan teknik jumputan. Beberapa bahkan mengkombinasikan teknik jumputan dengan batik. Popularitas tie-dye kemudian melonjak di AS berbarengan dengan munculnya subkultur hippie, sebuah gerakan yang cukup berpengaruh pada era 1960-an atau biasa juga disebut sebagai ‘generasi bunga’. Tie-dye menjadi simbol dan pernyataan counterculture di era itu.

Setelah naik popularitasnya Tie Dye mulai mengepakkan sayapnya di dunia mode. Tren tie-dye tak hanya berhenti hanya pada pakaian, namun juga merambah pada juga perangkat mode lain seperti topi, sepatu, tas, hingga aksesori.

BACA JUGA  Tesla Akan Hadirkan Mobil Listrik Yang Memiliki Biaya Baterai Sama Dengan Mobil Gas

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close