fbpx
Home / Apa yang Sedang Dunia Bicarakan / Dalam Negeri / Tetap Waspada! Kejahatan Cyber Akan Banyak Mewarnai Fase New Normal Kali Ini

Tetap Waspada! Kejahatan Cyber Akan Banyak Mewarnai Fase New Normal Kali Ini

Pandemi virus Corona yang sampai saat ini belum teratasi, membuat pemerintah mengeluarkan wacana akan diperlakukannya fase tatanan kehidupan baru atau new normal. Namun nyatanya, fase ini berpeluang dimanfaatkan oleh para penjahat cyber dengan melakukan penipuan jenis baru, yaitu rekayasa sosial di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Tony Seno Hartono, Adjunct Researcher Center of Data Society (CfDS) Universtias Gadjah Mada (UGM), dalam konferensi virtual Aman Beraktivitas di Platform Digital, Kamis (28/5/2020). Ia mengatakan bahwa masa ini merupakan momentum bagi pelaku penipuan yang memanfaatkan lonjakan layanan berbasis digital yang digunakan oleh banyak masyarakat.

“Contoh penipuan rekayasa sosial seperti pelaku menyamar menjadi mitra pengemudi layanan transportasi online, dan mencoba mengelabui konsumen dengan beralasan saldo untuk membeli makanan tidak cukup,” jelas Tony.

Ia juga menambahkan, “kemudian disitu momentum terjadi, karena konsumen dibuat percaya maka saat diminta untuk mengirimkan uang konsumen pun menuruti permintaan tersebut.”

Selain itu, ia juga menjelaskan penipuan yang bisa saja terjadi dengan memanfaatkan lonjakan pendaftaran calon mitra usaha.

BACA JUGA  Ingin Mengawasi Anak Dalam Menggunakan Ponselnya? Inilah Aplikasi Mata-Mata Untuk Memantau Aktivitas Ponsel Anak (Bagian 2)

“Dmana penipu menyamar sebagai perwakilan digital platform, untuk meminta data pribadi mulai dari data diri hingga data rekening bank,” ujarnya.

Bahkan, ia juga menjelaskan bahwa saat ini dimana kebutuhan tinggi atas produk terkait virus Corona juga bisa digunakan untuk melakukan penipuan, yaitu dengan melakukan penyamaran sebagai penjual obat virus di sebuah platform belanja online. Pelaku akan menjebak pembeli dengan mengirimkan tautan yang harus mereka isi dengan data pribadi, hingga menguras saldo uang digital pembeli.

Ia mengatakan dalam menanggulangi hal tersebut, harus ada kerjasama dari pemangku kepentingan.

“Seperti industri teknologi, pemerintah dan regulator, organisasi masyarakat, akademia, hingga individu itu sendiri yang menggunakan sarana teknologi,” ungkap Tony.

Ia beranggapan bahwa industri teknologi harus membuat kebijakan yang dapat meningkatkan edukasi pengguna teknologi, serta memfasilitasi kerjasama lintas industri untuk menghadapi masalah tersebut.

Selain itu, dari sisi pemerintah ia berpendapat bahwa mereka harus membuat diskursus publik yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keamanan teknologi digital. Disamping itu, para individu juga harus berperan aktif untuk sadar dalam mencegah tidak penipuan yang bisa saja terjadi.

About syharil

Check Also

Tidak diketahui oleh banyak pelanggan Tri, Ternyata ini Fungsi dari poin bonstri (part 2)

Bonstri adalah sebuah even yang diluncurkan oleh perusahaan kartu orabayar Tri. Mereka membuat even ini …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *