fbpx
Dalam NegeriGaya HidupTeknologi

Tagihan Listrik Naik Hingga 100%? Ternyata Ini Penyebabnya

Baru-baru ini, masyarakat mengeluhkan tagihan listrik yang melonjak drastis, atas hal tersebut PT PLN (Persero) dituding telah menaikkan tarif listrik secara sepihak. Namun nyatanya PLN sebenarnya tidak memiliki kewenangan untuk menaikkan tarif listrik, bahkan sejak tahun 2017 tarif listrik tidak naik. Pada tahun ini pun Kementerian ESDM memastikan bahwa tarif listrik tidak naik hingga September 2020.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menjelaskan bahwa kenaikan tarif yang terjadi adalah dikarenakan pandemi virus Corona yang membuat konsumsi listrik meningkat. “Yang paling hot kok tagihannya naik? Itu bukan naik (tarif listrik),” ungkapnya.

Menurutnya, kenaikan tarif listrik tersebut disebabkan karena bulan sebelumnya tidak masuk dalam tagihan di awal pandemi virus Corona. Oleh karena itu, tagihan tersebut dimasukkan ke dalam rekening bulan berikutnya, sehingga dirasa oleh masyarakat telah mengalami kenaikan.

Dengan hal tersebut, PLN mengeluarkan kebijakan pada pelanggan yang tagihannya membengkak untuk dapat melakukan cicilan hingga bulan September.

“Tapi apapun, kemarin PLN sudah announce bisa dicicil. Itulah kenapa di PLN sendiri, selain pemasaran tadi, kita akan inovasikan dri smart meter, smart distribusi, smart procurement,” ujarnya.

BACA JUGA  Operasi pada Kantung Mata, Apakah Berbahaya?

Diketahui bahwa PT PLN memastikan bahwa tidak ada kenaikan tarif listrik, kenaikan tarif listrik yang dirasakan oleh pelanggan disebabkan adanya peningkatan penggunaan listrik saat pandemi virus Corona. Dimana pada saat itu diperlakukan PSBB yang juga bertepatan pada saat bulan puasa.

Perhitungan tarif listrik ini terdiri dari dua komponen utama, yaitu pemakaian yang dikalikan dengan tarif listrik. Tarif listrik tidak mengalami kenaikan sejak tahun 2017 lalu, selain itu PLN juga memastikan tidak melakukan subsidi silang dalam pemberian stimulus Covid-19 kepada pelanggan 450 va dan 900 va bersubsidi,  karena stimulus sendiri diberikan oleh pemerintah. Mereka juga menyatakan bahwa telah diawasi oleh Pemerintah, DPR, BPK, dan BPKP, sehingga tidak ada kemungkinan untuk melakukan subsidi silang.

Memang diketahui pada saat PSBB, PLN tidak melakukan pencatatan meter, sehingga tagihan pada bulan April menggunakan perhitungan rata-rata pemakaian 3 bulan sebelumnya. Pada bulan April lalu, baru 47% dilakukannya pencatatan meter untuk tagihan bulan Mei, sementara untuk Mei sendiri hampir 100% dilakukan pencatatan untuk bulan Juni. Sehingga untuk tagihan rekening bulan Juni adalah tagihan yang asli ditambah dengan selisih pemakaian bulan sebelumnya, yang masih dicatat menggunakan rata-rata 3 bulan sebelumnya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close