fbpx
CORONA UPDATEDalam Negeri

Risiko Terlalu Besar, Presiden Jokowi Memutuskan Untuk Menunda Masuknya Sekolah

Terkait adanya virus Corona yang tidak kunjung pergi, Presiden Joko Widodo mengeluarkan arahan terbaru tentang pendidikan di era new normal, ia memutuskan untuk menunda masuknya sekolah.

Muhadjir Effendy, Menko PMK akan membahas tentang kapan masuknya sekolah bersama Kemendikbud. Ia menyampaikan pendapatnya kepada Presiden Joko Widodo untuk benar-benar menggodok secara matang penerapan new normal di lingkungan sekolah.

Hal itu ia ungkapkan dalam tayangan YouTube KompasTV pada hari Jumat (29/5/2020). Dalam tayangan tersebut, ia tidak ingin presiden menerapkan new normal di sekolah secara sembarangan.

Pendapatnya yang sejalan dengan presiden yang menilai harus adanya perhatian khusus di sektor pendidikan memang masih beresiko jika dilakukan dalam waktu dekat ini. Ia juga berpendapat bahwa protokol kesehatan yang ada di sekolah berbeda dengan sektor umum lainnya, terlebih yang dihadapi adalah anak-anak, resikonya terlalu besar.

Diketahui bahwa jika mengacu pada kalender pendidikan, maka sekolah akan memasuki ajaran baru pada 13 Juli 2020 mendatang. Namun karena adanya kondisi yang saat ini belum memungkinkan, pemerintah bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masih mengkaji risiko kemungkinan yang terjadi sebagai upaya untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

BACA JUGA  4 Anggota TNI & 14 Orang Warga Sipil Ditangkap Terkait Pencurian Kabel Telkomsel

Dia juga mengatakan bahwa dirinya tidak ingin sekolah menjadi klaster baru penyebaran virus Corona. Selain itu, pemerintah pastinya juga akan mendapatkan sorotan buruk dari publik, hal ini sangat membahayakan karena bersangkutan dengan anak-anak.

Menanggapi hal tersebut Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, tidak kuasa untuk menahan tawa ketika mengungkapkan hasil angket yang telah diunggahnya. Bagaimana tidak, dari kalkulasi yang didapatkan sekitar 80 persen responden dari orang tua menolak sekolah untuk dibuka kembali. Ia menyebutkan bahwa para orangtua merasa khawatir karena situasi saat ini meskipun dengan aturan new normal.

Anehnya, respon dari orang tua tersebut berkebalikan dengan respon anak-anak yang menginginkan untuk bisa kembali belajar di sekolah. Diduga bahwa saat ini anak-anak jenuh karena menjalani belajar di rumah serta ingin bertemu dengan teman-temannya.

Retno menyampaikan bahwa sekitar 200.000 orang tua murid ikut berpartisipasi dalam survei tersebut. Uniknya dalam 32 jam sejak diunggah di Facebook pribadinya, sekitar 196.000 lebih orang tua murid mengungkapkan pendapatnya yang mayoritas 80 persen menolak dibukanya kembali sekolah pada tahun ajaran baru.

BACA JUGA  Semarang Batal PSBB, Jogo Tonggo Solusinya

“Jadi Juli dibuka itu mereka keberatan, mereka memberikan beberapa usul di antaranya September atau Desember, nah ini sesuatu yang luar biasa,” imbuhhnya.

Berkebalikan dengan itu, sekitar 9.800 murid juga mengisi survei tersebut, anehnya 80 persen dari mereka setuju untuk kembali masuk ke sekolah. Sementara itu, mereka juga mengambil survei dari para guru yang menyebutkan sekitar 60 persen guru setuju untuk kembali ke sekolah.

Ia mengatakan bahwa hasil tersebut sangatlah menarik, karena menunjukkan bahwa kegiatan belajar di rumah tidak selalu menyenangkan. Kebanyakan siswa menginginkan kembali ke sekolah karena mereka jenuh terus berada di rumah.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close