fbpx
Apa yang Sedang Dunia BicarakanDalam NegeriUncategorized

Nekad? Indonesia Akan Cetak Uang Besar-Besaran

Berdasarkan issue beberapa hari yang lalu, Badan Anggaran DPR RI mengusulkan ke pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk mencetak uang hingga Rp 600 triliun. Dengan mencetak uang lebih banyak, bertujuan untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia dari dampak virus Corona ( Covid-19). Tak hanya itum, mantan Menteri Perdagangan yakni Gita Wirjawan, juga mendukung wacana yang dilontarkan para wakil rakyat tersebut.

Bahkan menurut versi Gita mengusulkan uang yang dicetak jauh lebih besar yakni sebanyak Rp 4.000 triliun. Wacana cetak uang baru dilontarkan setelah melihat defisit APBN yang melebar di atas 5 persen dari sebelumnya hanya 1,75 persen. “Uang tersebut tidak hanya digunakan untuk memberi stimulus pada mereka yang kehilangan pendapatan, tapi juga untuk restrukturisasi penyelamatan sektor riil dan UMKM,” jelas Gita.

Gita yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Pertimbangan Kadin itu berpendapat bahwa BI tak perlu khawatir soal melemahnya rupiah di hadapan mata uang negara lain. Pasalnya, banyak negara kini mencetak uang untuk mencukupi kebutuhan ekonomi dalam negerinya. Dia juga menepis kekhawatiran banyak pihak adanya moral hazard dalam pencetakan uang. Menurut pendapatnya, kunci penting penyaluran uang tersebut ke masyarakat yakni dengan memperketat koordinasi pusat dan daerah dalam menentukan kanalisasi penyaluran bantuan.

BACA JUGA  Simak, Cara Membuat Kartu Lebaran Unik dan Menarik

Gita juga meyakinkan BI bahwa kebijakan pencetakan uang dianggap sebagai satu-satunya alternatif untuk mencapai likuiditas yang dibutuhkan negara saat ini. “Harus ada kebijakan tidak biasa yang harus diambil pemerintah, yakni pencetakan uang. Meski diakui bertentangan dengan apa yang diajarkan selama ini,” ujar pria yang pernah berkarir di Goldman Sachs ini.

Indonesia sendiri sebenarnya juga mempunyai catatan sejarah mencetak uang lebih banyak saat terjadi krisis, tepatnya di era Presiden Soekarno. Saat itu, uang yang dicetak tersebut banyak digunakan untuk membangun proyek-proyek mercusuar seperti Monas, GBK, hingga Hotel Indonesia.

Namun, faktanya ada beberapa risiko jika Indonesia mencetak uang terlalu banyak:

1 Inflasi tinggi

Jika tak bisa dikendalikan, cetak uang yang terlalu banyak bisa memicu inflasi yang tinggi yang pada akhirnya juga dapat merugikan masyarakat. Uang yang beredar akan semakin banyak, membuat nilai uang terus-menerus berkurang yang membuat harga-harga barang melambung.   Kondisi demikian akan lebih parah jika negara tak berhenti mencetak uang, sementara permintaan maupun produksi barang/jasa berkurang, khususnya saat situasi krisis.

BACA JUGA  Inilah Kunci Utama Jika Ingin Corona Berakhir di Bulan Juni-Juli

Nilai tukar anjlok Nilai tukar uang asing sangat dipengaruhi oleh jumlah uang yang beredar. Bertambahnya rupiah bisa berakibat turunnya nilai kurs. Apalagi, rupiah bukan mata uang yang bisa diterima di dunia seperti dollar AS atau yen Jepang.

2. Utang luar negeri membengkak

Risiko lain yakni utang luar negeri yang naik tajam merupakan efek domino dari anjloknya mata uang rupiah terhadap mata uang asing. Semakin nilainya merosot, maka otomatis membuat utang luar negeri bisa semakin membengkak. Bank Indonesia berbeda dengan bank sentral AS Federal Reserve yang dapat dengan bebas mencetak dollar AS. Mata uang Negeri Paman Sam dipakai oleh sebanyak 85 persen transaksi ekspor-impor dunia, sedangkan rupiah tidak diakui mata uang yang dipakai secara internasional.

3. PHK besar-besaran

Jumlah uang yang beredar terlalu banyak bisa membuat daya beli masyarakat anjlok. Ini terjadi saat uang yang beredar tak sebanding dengan produksi barang/jasa. Sebabnya, lemah daya beli masyarakat, banyak perusahaan terpaksa menurunkan atau menahan produksi mereka yang berimbas pada langkah pengurangan karyawan.

BACA JUGA  GoodNews, Mudik Lokal di Perbolehkan. Simak Aturan yang Harus di Taati !

Namun, dibalik ini semua hal yang paling jadi sorotan adalah dipandang investor sebagai risiko, sehingga mereka juga tak tertarik berinvestasi di Indonesia.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close