fbpx
Apa yang Sedang Dunia BicarakanLuar NegeriUncategorized

Merosot Tak Terkendali, Pecahan Roket China Terjun Bebas Ke Bumi

Baru- baru ini telah ditemukan pecahan besar dari roket asal China yang jatuh liar dan mendarat di Bumi, Senin pada (11/5/2020). Pecahan roket ini menjadi sampah luar angkasa terbesar sejak 1991. Roket China yang miris itu adalah Chinese Long March 5B (CZ-5B). Roket tersebut berhasil diluncurkan dari Bumi pada 5 Mei lalu. Roket pun sempat menghabiskan beberapa hari di orbit untuk menyelesaikan misi. Selesai dengan misi mengorbit, roket kembali masuk ke atmosfer dan malah jatuh ke Bumi.

Poin utama yang menjadi perhatian para peneliti adalah pecahan roket yang jatuh begitu besar dan turun tanpa kendali. Sehingga mereka sulit untuk memprediksi dimana letak pecahan raksasa itu akan mendarat. Beruntungnya, pecahan itu mendarat di Samudera Atlantik dekat lepas pantai di barat Afrika.

“Dengan berat 17,8 ton, ini adalah objek terbesar yang masuk ke atmosfer Bumi tanpa kendali sejak (kasus) Salyut-7 seberat 39 ton pada 1991,” jelas astronom Jonathan McDowell dari Harvard-Smithsonian Center untuk Astrofisika dalam cuitannya. “Kecuali Anda juga menghitung OV-102 Columbia pada 2003.”

BACA JUGA  Hydroxychloroquine : Fakta Dari Obat Virus Corona COVID-19 yang Kontroversial
Sumber: CNN

Salyut 7 adalah stasiun luar angkasa milik Soviet yang jatuh ke Bumi. Stasiun dengan berat 43 ton tersebut masuk ke atmosfer dan melintasi Argentina. Sementara OV-102 adalah pesawat shuttle Columbia yang kembali masuk ke atmosfer pada 2003. Pada awalnya, jatuhnya puing pesawat ini terkendali, hingga akhirnya tak terkendali ketika sudah berada di atas langit Texas. Puing-puing ini kadang terjadi terkendali, sebagian terkendali, tapi lebih sering jatuh tak terkontrol.

Meskipun demikian, McDowell mencatat bahwa jatuhnya CZ-5B tidak biasa sebab puing raksasa ini sempat melewati banyak kota besar di Australia, Amerika Serikat, dan Afrika. Untungnya, puing raksasa dengan panjang 30 meter itu tidak terbakar saat masuk ke lapisan atmosfer. Sehingga puingnya tidak menimpa daerah pemukiman, seperti ditulis dalam Science Alert.

Pada Juli 2019, stasiun luar angkasa China Tiangong-2 juga jatuh dalam gerakan terkendali. Stasiun luar angkasa ini jatuh dengan kendali jarak jauh menggunakan sisa bahan bakar yang ia miliki. Stasiun ini jatuh di daratan yang sudah ditentukan sebelumnya, sedikit jauh dari laut. Sebelumnya pada 2018, stasiun luar angkasa China, Tiangong-1 seberat 9,3 ton juga jatuh tak terkendali. Beruntung stasiun luar angkasa itu jatuh ke Samudra Pasifik, seperti ditulis Live Science.

Meski lepas orbit dari roket CZ-5B tidak terkendali, tapi bukan berarti pendaratan ini tidak direncanakan. Sepanjang sejarah, peluncuran luar angkasa mesti membuat sampah dari sebagian besar badan pesawat kembali ke Bumi sebagai puing-puing.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close