fbpx
Dalam NegeriTravel

Dibalik Keindahan Gunung Batur

Gulungan bubur panas rakasasa dari perut Gunung Batur, Kabupaten Bangli, Bali, menjalar ke arah pelan. Perjalanannya menuju arah selatan lebih dari 40 kilometer dari bibir puncaknya. Bergulung-gulung pada 30.000 tahun yang lalu. Abunya merabunkan pandangan mata karena sangat tebal. Pada nyata nya lukisan itu merupakan batuannya yang mana abunya meninggalkan paras-paras halus di sekitaran Sukawati, hingga lekukan batuan indah di sepanjang Hidden Canyon, Desa Guwang, Kabupaten Gianyar. Lukisan alam yang menawan wisatawan.

Kanvas alam itu bertebaran indah sejak letusan itu hingga sekarang. Setelah jauh perjalanannya, bubur raksasa berupa lava panas itu menipis, lalu habis. Cendera mata letusan Batur dapat dinikmati di dinding Tukad Ayung, Air Terjun Tegenungan, dan tebing Hidden Canyon. Indah dan masih terjaga keasliannya sampai sekarang.

Peneliti Kaldera Nusantara Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo mengajak kita untuk membayangkan bagaimana tebal dinding bubur itu yang mencapai ketinggian lebih dari 20 meter di Hidden Canyon. Dengan ketinggian tersebut mampu menggambarkan betapa muntahan lava Batur tertinggi bisa diperkirakan lebih dari 400 meter.

BACA JUGA  Netizen Ramai-Ramai Menjodohkan Taqi Malik & Ria Ricis
Sumber: Wira Rental Mobil

Di tebing-tebing Sungai Petanu, di Gianyar, tersaji dinding-dinding tebing batuan dengan warna krem kekuningan, terpotong lurus vertikal oleh mesin-mesin gergaji tambang batu. Batuan mudah digergaji karena sifatnya yang tidak terlalu keras, tetapi juga tidak terlalu rapuh.

Eksplorasi batuan sudah berlangsung lama dan hampir tak pernah berhenti karena memang Bali memerlukan batu-batu itu. Batuan paras terhalus teksturnya dipakai menghias dinding atau untuk ukiran seperti di pura.

Penelitian I Made Berata dari Institut Seni Indonesia Denpasar (2008) berjudul Perkembangan Seni Kerajinan Ukir Batu Padas di Silakarang, Gianyar, Bali menyebutkan, ukiran batu paras di daerah tersebut memiliki ekspresi khas yang halus dan berbeda. Pura Puseh Desa Adat Silakarang merupakan salah satu bukti pahatan batu padas dari warga setempat sejak 1832.

Dalam perkembangannya, berdasarkan Badan Pusat Statistik Bali, tercatat perolehan devisa dari kerajinan bahan baku batu padas tahun 2014 sebesar 14,7 juta dollar AS atau sekitar Rp 206 miliar. Amerika Serikat, Australia, dan Jepang menjadi negara-negara yang paling tertarik pada pahatan batu paras ini.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close