fbpx
Dalam NegeriUncategorized

Antisipasi Terhadap Angka Putus Sekolah Saat Masa Pandemi

Lestrai Moerdijat selaku Wakil Ketua MPR RI meminta kepada pemerintah supaya menjadin masyarakat yang tidak mampu mengikuti proses belajar mengajar di masa pandemi karena keterbatasan dalam ekonomi. Jika masalah dan kendala di masa pandemi tidak diatasi maka dikhawatirkan akan menimbulkan meningkatnya angka putus sekolah.

Pada tahun 2019 Data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) mrncatat sebanyak 4.5 juta anak yang mengalami putus sekolah atau tidak sekolah. “Dengan wilayah zona merah dan zona kuning sebanyak 94 persen, sistim pembelajaran jarak jauh masih mejadi beban masyarakat bagi kelompok masyarakat tidak mampu,” kata Lestari dalam keterangan tertulisnya, Selasa (16/06/2020).

Pernyataan Lestari menyikapi tentang Keputusan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran Baru dan Tahun Akademik Baru di masa pandemi Covid-19, yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem makarim, Senin (15/06/2020).

Menurut Lestari pada Panduan tersebut memang dibuka peluang untuk diselenggarakanya proses belajar mengajar secara tatap muka di sekolah, khususnya untuk wilayah yang berada di zona hijau. Berdasarkan data 94 persen tersebut, peserta didik tinggal di kabupaten/kota yang berada di zona kuning, orange, dan hijau.

BACA JUGA  Kota Semarang Berpotensi Jadi Episentrum Covid-19

Menurut Lestari, selain masyarakat yang tidak mampu perhatian juga ditujukan kepada peserta didik yang berada di tahap akhir, seperti kelas 6 SD, kelas 9 SMP, dan kelas 12 SMA butuh ekstra perhatian pembelajaran dalam masa seperti ini.

“Bila terjadi kesalahan dalam menanggapi kelompok masyarakat tidak mampu dan dikelas akhir, dikhawatirkan akan terjadi naiknya angka putus sekolah di tahun ajaran ini,” kata Lestari. Menurut Lestari bagi kelompok masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi, kendala dari pembelajaran secara online msekedar tidak hanya beli pulsa, melainkan sarana pendukung seperti gadgetnya tidak punya atau bahkan tidak mendukung dalam pengoperasianya. Sama halnya dengan siswa akhir yang mendapatkan pembelajaran secara tidak normal dan tidak maksimal.

 

Kesiapan dari orang tua dan tenaga kependidikan atau pengajar dalam menghadapi pembelajaran yang menggunakan sistim Online, masih menjadi kendala di Negeri ini, menurut Lestari. Dia juga berharap mengenai pembelajaran yang dilakukan di wilayah zona hijau selalu menjaga kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan di lingkungan sekolah yang harus dilakukan.  Juga penerapan physical distancing seperti adanya jarak yang dibuat antar siswa, dan larangan berkerumunan harus dijalankan dengan benar oleh pihak sekolah.

BACA JUGA  Heboh, Terdengar Suara Ngaji dan Sosok Perempuan di Gedung Kosong

“Pemerintah harus menjamin semua kewajiban itu terlaksana, jangan hanya banyak memberikan kewajiban kepada sekolah tanpa memberdayakannya,” Jelas Lestari.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close